Minggu, 11 September 2011

SEJARAH HIDUP AJO BUSET

Banyak orang tertawa terkaka ketika menyaksikan dan mendengarkan Buset bernyanyi. Lirik lagunya lucu. Iiramanya ringan, aksinya di video klip membuat penggemarnya terhibur. Apalagi, sebelum lagu, atau sela lagu, ada obrolan kocak yang mengocok perut. Saat ini, di khasanah lagu Minang Buset nama yang lagi bersinar dikarenakan kekhasan suara, gaya dan lawakannya.


Lirik lagu yang lucu dan easy listening membuat kehadiran album Buset selalu dinanti. Ia, sangat mengagumi penyanyi sekaligus aktor legendaries Betawi, Benyamin Sueb.


Kehadiran Buset di dunia musik Minang sesungguhnya berawal dari ketidaksengajaan. Kala itu, seorang aranger musik Minang, Remon Kuantan yang merupakan urang sumando di Taratak Piaman, sering mendengar Buset bernyanyi sambil bergitar bersama teman-temannya. Remon terkesima, bukan pada suara Buset, tetapi pada lirik lagu yang dinyanyikan Buset. Lirik yang dilantunkan Buset, kata-katanya menggelitik, namun enak didengar


Usut punya usut, ternyata lirik itu, Buset sendiri yang menciptakannya.Inspirasinya berasal dari kehidupan sehari-hari, yang menggunakan dialek khas Pariaman. Nyali seniman Remon terusik, ia optimis nyanyi ciptaan Buset bakal diterima pasar. Maka Remon pun menawarkan Buset rekaman. Bukannya senang ditawari rekaman, Buset justru shock, mendengar ajakan Remon. Pasalnya ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi penyanyi.


Kalaupun selama ini ia sering bernyanyi dengan lirik yang menurutnya asal-asalan itu, hanya untuk perintang-rintang hari saja. Buktinya tidak satu pun lagu itu ia catat di kertas. “Iyo sabana takajuik awak wakatu diajak rekaman dek Bang Remon, lai ndak salah abang tu. Suaro awak je parau, sudah tu awak ndak pandai main musik, do, ciek bagitar je nan taunyo,” tuturnya dengan dialek khas Piaman saat dikunjungi Padang Ekspres di Studio Rekaman Taratak Limo (Tarali) milik Remon di Jalan M Yamin no 5 Taratak Pariaman, kemarin.


Namun Remon tidak menyerah, ia bilang kepada Buset, apa salahnya untuk mencoba dulu. Bermodalkan uang hasil penjualan perhiasan kalung amaknya, Jadilah, pada tahun 2006 itu, Buset mulai rekaman di Delta Studio. Uniknya, jika arranger menginginkan suara penyanyinya merdu, Remon sebaliknya, justru proses rekaman di ulang lagi, jika suara Buset terdengar merdu.


Karena menurut Remon, suara asli Buset itulah yang memiliki nilai jual. Oleh Remon hasil rekaman yang didalamnya terdapat 10 lagu ciptaan Buset dengan musik ciptaannya, ia tawarkan ke sejumlah produser rekaman, semuanya menolak.


Lagi-lagi Remon tidak patah arang, ditemani Buset, Remon yang sering dipanggil Jarot, mendatangi, Uncu, bos Planet Record Bukittinggi. Uncu mendegarkan rekaman lagu Buset ke anaknya yang masih kecil, anaknya suka, dan uncu pun mengiyakan untuk memproduseri lagu Buset.

Dengan lagu andalan Batp Pren dan Radio Si Buset, maka album pertama Buset dilempar ke pasaran. Tanpa disangka, album Buset laris manis. Lirik lagu yang lucu dan mudah diucapkan membuat lagu Buset cepat akrab ditelinga pendengar. Bahka di Piaman, di kota tempat Buset lahir dan dibesarkan, kata “Bau Ang Mah” yang ada di dalam lagu Bato Prend jadi pemeo yang sering diucapkan.

Begitu juga kata “Oi yuang, Kecek ang sanang masuak narako” yang terdapat di album Bato Prend, jadi kata yang sering diucapkan orangtua untuk menyuruh anaknya untuk shalat. Makin lucu, karena dalam musiknya dibumbui dengan music rap, yang kata-katanya terselip bahasa Inggris. Untuk urusan baha asing itu, Buset mengaku asal sebut saja, bahkan ia sendiri tidak mengerti apa artinya. “Paniang Urang Barat Mandangae tu mah,”ujarnya.


Video Klipnya pun dibuat sederhana namun sangat menarik karena aksi Buset yang lucu, apa adanya. Pembuatannya tidak menggunakan aktor, hanya teman-teman sepermainan dan sepergitaran, namun mampu mengocok perut penonton.


Ya, meskipun lagu-lagu Buset terkesan bagarah-garah, namun sesungguhnya ada unsur pesan mengajak kepada kebaikan dan kritik sosial yang terkandung dalam lagunya. Dalam lagu Bato Prend, Buset menggambarkan kehidupan anak muda sehari-hari yang suka mabuk dan narkoba yang sebenarnya tidak cocok dengan budaya dan agama di Ranah Minang. Hanya saja, penyampaiannya terasa tidak menggurui, karena dibawakan dengan cara yang lucu dan bagarah. Buset sendiri tidak menyangka albumnya bakal “meledak”. Hal itu juga membuat Buset dilematis. Di satu sisi ia bahagia, di sisi lain ia kebingungan. Ia berpikir, bagaimana jika nanti ada orang yang mengundang untuk manggung.

Hal ini karena putra pasangan Nurwalis dan Akhir Ali, tidak punya pengalaman nyanyi di panggung sama sekali, selama ini ia hanya nyanyi di muko janjang rumah, bersama kawan-kawannya. Jadilah selama setahun busyet “mandok” menolak semua tawaran manggung.

Ia takut, khawatir penonton kecewa melihat aksinya, jika menerima orderan manggung , padahal mereka membayar untuk itu. Meski demikian, ia sadar tidak bisa lari dari kenyataan, maka selama setahun itu juga ayah dua orang anak ini berlatih untuk nyanyi di panggung bersama penyanyi yang biasa manggung. Begitu sudah percaya diri, Busyet baru berani terima tawaran manggung.


Aksi manggung pertamanya di Pesisir Selatan, ia dibayar Rp 500 ribu. Setelah itu, tawaran manggung datang silih berganti, tidak hanya di Piaman, Sumbar, tetapi Buset juga menyanyi ke Papua hingga Malaysia. Umumnya tawaran itu berasal dari perantau yang ingin menyaksikan langsung aksi Buset. Setiap minggu minimal ada satu kali orderan manggung. Orderan makin padat, pada saat musim kawin dan usai lebaran. Untuk luar Sumbar, suami Dewi ini mematok harga Rp 10 juta, sedangkan untuk kawasan Sumbar, tergantung negoisasi saja, nego badunsanak, istilah Buset.


Jadilah kini ia Bukan Buset Biasa (BBB). Iia adalah artis yang cukup diperhitungkan di kancah musik Ranah Minang. Pundi-pundi uang pun selalu menghampirinya. Rumah, mobil pun sudah berhasil ia miliki dari profesi barunya ini. Meski demikian, Buset tetaplah seperti Buset lama, Buset yang tampil apa adanya dan bicara sesukanya.


Proses kreatif Buset tidak berhenti sampai di situ saja, tiap tahun jelang lebaran, ia selalu melaunching album. Pemilihan waktu jelang lebaran, karena pada saat itu perantau ramai pulang ke kampung, lebih hemat, karena tidak perlu promosi ke luar Sumbar.


Hingga saat ini Buset sudah melempar lima album kepasaran, mulai dari “Bato Prend, album kedua,”Sipatuang, ketiga,”Sunaik Rasul dank e empat “Dewi. Tahun ini, ia juga berencana melempar album ke lima kepasar dengan Judul Album, “Panjek Pinang”. Proses rekaman dan pembuatan video klip sedang berlangsung. Lagu di dalam kelima lagunya itu 90 persen hasil ciptaannya sendiri, total jumlahnya 51 lagu.


Dalam menciptakan lagu, biasanya inspirasi berasal dari kehidupan lingkungan sehari-hari, bahkan ada beberapa lagu yang berasal dari pengalaman hidupnya. Seperti lagu goreang dan Lauak, berasal dari pengalaman hidupnya yang sempat melakoni profesi itu sebelum menjadi penyanyi. Untuk aksi panggung ia terinspirasi artis legendaries Benyamin Sueb, yang sering nyeletuk, dan tampil apa adanya.


Kedepan, Buset memiliki mimpi untuk Go Nasional, berkiprah di pentas musik nasional. Langkah itu sudah diawalinya dengan menciptakan lagu yang judulnya “Negeriku Rawan Bencana”. Lagu itu berhasil masuk dalam album kompilasi artis nasional, dimana ada Grup Band “Naif” dalam album itu. Lagunya itu juga jadi soundtrack music dalam sosialisas rawan bencana di Metro TV.(padangekspres)

1 komentar:

  1. Boleh minta no hp buset..
    Ada tamu saya bulan maret 2017 mau kesini dan fans sama ajo buset.
    Mereka ingin ketemu dan kalau berkenan tolong info ke saya +6285274300888

    BalasHapus